Senbazuru (Thousand Origami Cranes)

Di Jepang ada kepercayaan jika seseorang membuat 1000 origami burung jenjang (crane)  maka satu permintaannya akan dikabulkan. Sejak tahun lalu ketika terlibat dalam salah satu proyek di Jakarta, saya mulai membuat crane ditengah-tengah kejenuhan coding. Dan hingga sekarang belum mencapai 100. Membuat origami crane sendiri ternyata bisa membuat jenuh juga. Ketika proyek software yang sekarang saya kerjakan mulai terasa membosankan, saya mulai kembali melanjutkan project senbazuru yang sudah berjalan.

Tapi ini bukan tentang senbazuru. Ini tentang “keteraturan lalu lintas” di Kota Bandung yang memang terkenal dengan kemacetannya, jalan yang berlubang dan angkot serta pengendara sepeda motor yang selalu bikin saya “tersenyum”. Beberapa hari yang lalu, dalam perjalanan pulang dari kantor di Surapati Core menuju rumah di Buah Batu, saya terjebak kemacetan selama 3 jam mulai dari perempatan Pahlawan-Suci hingga persimpangan Katamso-Cisokan yang mungkin hanya sekitar 500-600 m. Untuk mengisi waktu, maka saya mulai membuat origami crane dan ketika berhasil keluar dari kemacetan, saya berhasil membuat 12 cranes diselingi dengan makan snack, minum dan menginjak pedal gas untuk maju 0.5-1 m kedepan.

the cranes

12 cranes

Lalu, kenapa kemacetan bisa terjadi ? Menurut saya, satu hal yang cukup mengherankan adalah kenapa pengemudi mobil suka menambah jalur dari 1 menjadi 2. Ini yang sepertinya menyebabkan kemacetan yang cukup parah karena ada bottleneck ketika dengan terpaksa jalur harus kembali menjadi satu. Tentunya juga mobil-mobil yang keluar dari Griya dan yang masuk dari terusan Katamso dan Cisokan yang saat itu volumenya cukup banyak apalagi yang masuk dari Pahlawan dan Mustofa.  Saat itu saya cukup yakin dengan hipotesa penambahan jalur ini lah yang menjadi biang nya sehingga saya memikirkan jika saya bisa mendesain simulasi untuk membuktikannya maka akan saya coba. Namun hingga saat ini belum sempat untuk dilakukan. Mungkin faktor lainnya adalah meningkatnya volume kendaraan yang entah bagaimana bisa terjadi pada sore itu. Jadi pelajarannya adalah jangan pernah melewati jalan dimana para pengemudi mobil bisa menjadi cukup “cerdas” untuk menambah jalur.

Ketika teman bertanya dikantor pada siang hari kenapa saya membawa-bawa kertas origami. Saya katakan untuk mengisi waktu seperti di jalan ketika macet. Jadi berpikir, mungkin kita harus berhati-hati dengan apa yang akan kita katakan.

Sisi positif nya adalah target origami yang harus saya capai berkurang 12 pada sore itu. Sejak saat itu, ketertiban lalu lintas di Bandung masuk dalam wish list saya yang mungkin akan saya ucapkan ketika saya berhasil menyelesaikan crane yang ke 1000. My community service :p

Tagged ,